Ada yang masih kutunggu dengan setia. Semacam peta penunjuk letak tulang rusuk yang hilang di suatu masa. Berulangkali kaki merunut dalam setiap alur peristiwa. Menunggu pertemuan yang tak kutahu berwujud seperti apa. Sebab kalender saja belum tahu tanggal mainnya. Pun jalan dan tempat tak dapat dimintai keterangan panggung pertemuan akan dibangun di mana. Situasi belum paham detail acara. Sementara orkestra langit belum mengirim pertanda, entah menyewa hujan gerimis atau malam purnama. Serupa menunggu bus di perempatan atau simpanglima. Aku menunggu bus ke arah kota rahasia.
- Lasinta Ari Nendra Wibawa

No comments:
Post a Comment